Sabtu, Agustus 29, 2009

Aku ada...

Di balik goresan pena
di balik sayap yang mengering
di balik embun yang menguap

aku ada.

aku di sini.
mencoba mengukir sesuatu yang abstrak

impianku.

entahlah,
pena butut yang tergeletak menuntut harap di meja
seribu sayap yang aku tak mengerti kapan terkembangnya
dan embun pagi yang beningnya mengajakku malu

biar saja..

aku meraba-raba dalam gelap
mencoba melihat sinar temaram
bukan nyatakah ini ?

sekali lagi..
tertunduk.

Kamis, Agustus 27, 2009

eHem..

Sebenarnya siapa sih yang lebih ga bisa dimengerti ?
Wanita atau periya ?
hhhh...kadang berasa sebel juga, kenapa tiyap ari kerjaannya mikirin nih soal. Kalo uda nemu tulang rusuknya, pastinyalah bisa saling memahami. Gitu ajah kok repot siy.. :p

Sederhana ajah lah..
hidup sederhana.
berpikir sederhana.
berlaku sederhana.

Emang siy ini pendapat klasik dan mungkin sering dibicarakan banyak orang. Tapi, ga semudah itu mewujudkannya dalam realita.
Kata orang-orang tertentu, aku ini termasuk yang rada susah dimengerti, padahal keinginanku siy sederhana ajah.. :p

eHem..

Perdebatan...

Menjadi manusia yang bisa membela diri sendiri menurutku susah. Tanya kenapa ? Hhhh...aku paling ga bisa membela diri, aku paling ga bisa ngeluarin argumen-argumen dan berdebat...
Huwaaaa...mending nyuci piring setahun dee.. :p

Aku tipe pengalah, pendiam, dan segala tipe pasif lainnya. Aku kadang berontak juga dengan keakuanku yang seperti itu, kadang ingin mencoba dunia baru. Mencoba menjadi manusia dengan corak yang berbeda. Dengan warna yang aku pikir bisa membuat orang lain silau. Tapi aku tertampar dan sadar, it's not me !

Seakan berjalan dalam lorong panjang tak berkesudahan sembari memanggul setumpuk asaku tentang wanita yang sempurna, dan semua itu terasa seperti beban panjang. Ga nyaman.
Yaa..karena aku kurang alami, karena aku menganggapnya adalah setumpuk beban yang harus-harus-harus ku penuhi.

Hmmm...sekarang biarkan semua berjalan apa adanya. Biarlah semua mengalir bagai air, tak tahu kan bermuara dimana. Entah di muara laut, entah ditambak, atau menguap sia-sia.
Aku hanya mengikuti jalan yang memang sudah seharusnya ku ikuti, ada tangan lain yang telah melukiskan takdirku. Melukiskan kemana muaraku berpijak..

Selasa, Agustus 18, 2009

Cahaya ceria...

Dhuaar..
Dhorr..
Dhuaar..

Kembang api.
Bercahaya di langit kelam malam hari. Bersaing dengan kemilau bintang di kejauhan. Namun terdengar lebih riuh, terdengar lebih ceria. Bintang lebih melankolis, lebih tenang, tapi menghanyutkan.

"Lihat ! Lihat ! Ada suara kembang api...hayuk liat yuuk".
Seorang wanita berlari kecil menuju teras, diikuti orang lain di belakangnya. Wanita itu melongok ke arah langit, mencari-cari sesuatu. Merasa belum mendapatkannya, dia bergegas maju ke halaman depan sebuah rumah.

"Coba kemari. Lihat. Kembang apinya masih ada."
Dia mengajaknya dengan raut wajah begitu sumringah, seperti menemukan mainan baru. Seseorang itu hanya tersenyum, mengamati saja.

Di langit, nampak cahaya kembang api beragam warna. Merah, kuning, hijau. Seperti pelangi di malam hari. Begitu indah. Begitu menghipnotis mata manapun yang menyaksikannya. Entah itu hanya pendapatku saja, ataukah memang hal yang nyata. Namun yang pasti, melihat sinaran kembang api itu membuatnya tersenyum sejenak dalam pahit yang berusaha disembunyikannya.
Ada luka yang tak kasat mata.