Satu kata
dua
seribu...
tak cukup !
Sinar mata yang hanya mampui itu
merasuk
melewati celah terkelam
banyak angan bermain di dalamnya
anganku
anganmu
angan kita...
Mata...
jendela yang tak kan pernah hitam
mungkin tlah sering berembun
oleh badai
atau gerimis yang menghangatkan
atau hampir retak oleh api
Tapi, yang slalu ku ingat
Mata itu tetap berkata
"Aku menyayangimu"
Rabu, Juli 29, 2009
7 Februari 2009
Hati bukan, bukan batu
batupun luluh pada tetesan air yang mengindahkannya
hati ini lembut
lama tersayat baru sekarang apakah kan sembuh ?
atau telahkah bernanah ?
kau tegak berdiri di sana...
dengan benteng pikiran batin
sulit ku tembus
Tapi, kau sodorkan celah padaku
celah sempit hampir menutup
harapanku
semangat yang sertai hariku
Wajahmu begitu indah hari ini
seperi saat ombak mengejar kita
hangat
yah...
aku memilihmu !
selesai.
batupun luluh pada tetesan air yang mengindahkannya
hati ini lembut
lama tersayat baru sekarang apakah kan sembuh ?
atau telahkah bernanah ?
kau tegak berdiri di sana...
dengan benteng pikiran batin
sulit ku tembus
Tapi, kau sodorkan celah padaku
celah sempit hampir menutup
harapanku
semangat yang sertai hariku
Wajahmu begitu indah hari ini
seperi saat ombak mengejar kita
hangat
yah...
aku memilihmu !
selesai.
21 Desember 2008
Mengapa dunia semakin tak adil
habis kata tuk ungkapkan semua
air ludahku tlah kering
kemarin dia datang
bagai pangeran berkuda putih
suaranya hangat
ingin ku genggam suara itu dengan hati
aku rindu suara itu
hati tak bisa bertolak lama
memanggil nama
kak...
nama yang begitu lama terendap di hati
kak...
dunia ini jahat padaku
menghakimiku
membombardirku
mencelaku
kak...
habis kata tuk ungkapkan semua
air ludahku tlah kering
kemarin dia datang
bagai pangeran berkuda putih
suaranya hangat
ingin ku genggam suara itu dengan hati
aku rindu suara itu
hati tak bisa bertolak lama
memanggil nama
kak...
nama yang begitu lama terendap di hati
kak...
dunia ini jahat padaku
menghakimiku
membombardirku
mencelaku
kak...
21 Desember 2008
Tuhan...
mengapa hati ini kian fana ?
dunia begitu indah
tapi hati tak merasa
hati ringkih, lemah tiada daya
hilang tenaga
hilang harap
ingin kuputus detak nadi hidupku
kembali-Mu
mukaku pantas kembali begitu ?
bagitu banyak najis bertebar
malaikat di pundakkupun malu memberi laporan pada-Mu
tak pantas !
aku siapa ?
manusia biasa yang ingin cinta
rumput kerdil merindu pupuk yang suburkan dia
merindu embun yang segarkan hati
impian saja...
tak ada kumbang yang suci
semua hanya mengincar madu
aku ingin menabur benih
namun tak ada air, kering disini...
kering...
mengapa hati ini kian fana ?
dunia begitu indah
tapi hati tak merasa
hati ringkih, lemah tiada daya
hilang tenaga
hilang harap
ingin kuputus detak nadi hidupku
kembali-Mu
mukaku pantas kembali begitu ?
bagitu banyak najis bertebar
malaikat di pundakkupun malu memberi laporan pada-Mu
tak pantas !
aku siapa ?
manusia biasa yang ingin cinta
rumput kerdil merindu pupuk yang suburkan dia
merindu embun yang segarkan hati
impian saja...
tak ada kumbang yang suci
semua hanya mengincar madu
aku ingin menabur benih
namun tak ada air, kering disini...
kering...
16 Desember 2008
Aku ingin lari
memandang dunia begitu buta arah
kemanakah senja berlabuh
saat dada ingin bersandar
berkeluh pada kesah yang ada
kutemui hampa
BAyang indah mata bercahaya
menguatkan benak untuk melangkah
namun tak pasti
Ah, mengapa harus hati yang terluka
terguncang
bisaku diam bisu walau badai
bisaku tangis malam berderai
memberi cahaya pada emas yang pudar
emas hitam terbias arang
aku rumput kerdil
merindukan ilalang tinggi menjulang
mimpi...
ku bukan dewi
hanya pengemis perindu sang pangeran
memandang dunia begitu buta arah
kemanakah senja berlabuh
saat dada ingin bersandar
berkeluh pada kesah yang ada
kutemui hampa
BAyang indah mata bercahaya
menguatkan benak untuk melangkah
namun tak pasti
Ah, mengapa harus hati yang terluka
terguncang
bisaku diam bisu walau badai
bisaku tangis malam berderai
memberi cahaya pada emas yang pudar
emas hitam terbias arang
aku rumput kerdil
merindukan ilalang tinggi menjulang
mimpi...
ku bukan dewi
hanya pengemis perindu sang pangeran
19 November 2008
Ku dengan bagian hatiku
merangkak
berjalan melewati lorong detik
makin menghimpit
makin mencekik
Namun
dua kami adalah satu
satu kami adalah satu
Hati
kami sama, teriakku
saling puja dalam gelap
silang selisih saat terang
merangkak
berjalan melewati lorong detik
makin menghimpit
makin mencekik
Namun
dua kami adalah satu
satu kami adalah satu
Hati
kami sama, teriakku
saling puja dalam gelap
silang selisih saat terang
19 November 2008
Aku mo posting puisi-puisi jadulku...
Awal2 aku mencoba buwad nulis-nulis...
________________
Aku berjalan dalam ketakutan ini
dalam
nyata
Pagiku tadi tertawa
tersenyum di sela bulir keringat, bersamanya
Namun, jauh di dalamku sana
ada hampa
ada rasa yang ingin kulupa
ada asa yang slalu terjaga
Malam ini, kembali
Memory lintas saling silang, disini
berganti, dan
seperti kembali menusukkan belati
disini, tetap disini
Dia berkata dalam malam
hangat, katanya
Hatiku beracuh diri dengan dingin
Sendiri
Tak ku ingin...
Putuskah tali merah jambu itu ?
2 tahun...
kurangkai namanya
jadi bulir merah di hati
kini dia bagai gajah di pulau seberang
Jauh
Aku sakit
Aku salah
Peranku bukan penuntut di pengadilan
Akulah Terdakwa !
Kaukah jua bagiannya ?
Awal2 aku mencoba buwad nulis-nulis...
________________
Aku berjalan dalam ketakutan ini
dalam
nyata
Pagiku tadi tertawa
tersenyum di sela bulir keringat, bersamanya
Namun, jauh di dalamku sana
ada hampa
ada rasa yang ingin kulupa
ada asa yang slalu terjaga
Malam ini, kembali
Memory lintas saling silang, disini
berganti, dan
seperti kembali menusukkan belati
disini, tetap disini
Dia berkata dalam malam
hangat, katanya
Hatiku beracuh diri dengan dingin
Sendiri
Tak ku ingin...
Putuskah tali merah jambu itu ?
2 tahun...
kurangkai namanya
jadi bulir merah di hati
kini dia bagai gajah di pulau seberang
Jauh
Aku sakit
Aku salah
Peranku bukan penuntut di pengadilan
Akulah Terdakwa !
Kaukah jua bagiannya ?
Langganan:
Postingan (Atom)